Halloween Costume ideas 2015
Berita Terkini


Jember (pewarta-jatim.com) -  Selama ini masyarakat Indonesia mengenal ikan salmon sebagai salah satu sumber makanan yang mengandung Omega 3, yang bermanfaat bagi kesehatan. Sayangnya produk kesehatan yang mengandung Omega 3 dari ikan salmon berharga mahal, pasalnya ikan salmon tidak hidup di perairan Indonesia. Tidak heran jika produk kesehatan yang mengandung Omega 3 dari ikan salmon didominasi produk impor. Namun siapa sangka jika sebenarnya Indonesia memiliki kekayaan bahari luar biasa yang tak kalah kandungan Omega 3-nya dengan ikan salmon ? Ternyata ikan lemuru (Sardinella longiceps) yang banyak terdapat di perairan Indonesia mengandung Omega 3 yang lebih tinggi daripada ikan salmon, sehingga memiliki potensi besar sebagai obat dan produk kesehatan.
Potensi ikan lemuru sebagai obat dan produk kesehatan diungkapkan oleh penelitian tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Jember, Dwi Riski Saputra, Sakti Wibawa dan M. Idris Kamali. “Dari hasil penelitian Suseno tahun 2014, kandungan EPA ikan lemuru sebesar 21,77 persen dan DHA sebesar 11,59 persen. Bandingkan dengan kandungan EPA ikan salmon yang 12,07 persen dengan DHA sebesar 10 persen,” urai Dwi Riski saat ditemui di kampus FKG (21/10). Kandungan EPA dan DHA adalah penyusun Omega 3. Sayangnya menurut Dwi Riski, walaupun hasil tangkapan ikan lemuru di Indonesia cukup banyak, namun pemanfaatannya baru sebatas sebagai ikan sardin, bahan tepung ikan, atau bahan pakan ternak saja.
Kenyataan seperti ini dilihat tiga serangkai mahasiswa FKG ini di daerah Muncar, Banyuwangi dan Puger, Jember. “Hasil ikan lemuru di Muncar bisa mencapai enam ton per tahun, tentu saja ini potensi luar biasa jika bisa diolah sebagai obat dan produk kesehatan yang pasti tak kalah dengan produk kesehatan berbahan ikan salmon,” tambah Sakti Wibawa. Potensi ikan lemuru dengan Omega 3-nya mendorong mereka untuk meneliti minyak ikan lemuru sebagai obat radang sendi temporomandibula. Sendi temporomandibula adalah sendi yang menghubungkan antara tengkorak dengan rahang.
“Radang sendi temporomandibula banyak diderita oleh perempuan, khususnya yang memasuki masa menopouse akibat perubahan hormonal. Dengan bertambahnya usia, maka densitas serabut kolagen kartilago pada sendi temporomandibula makin berkurang. Jika tidak diobati, bisa berakibat fatal mulai pusing berat, tidak bisa menggerakkan rahang, hingga susah membuka mulut,” tambah Idris menimpali. Saat ini pengobatan radang sendi temporomandibula dilakukan dengan obat-obatan kimia yang memiliki efek samping, seperti dapat menimbulkan sariawan pada usus. Dari berbagai kajian pustaka, Omega 3 diyakini berkontribusi meningkatkan kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri. “Oleh karena itu, kami coba meneliti pemberian Omega 3 dari ikan lemuru sebagai obat radang sendi temporomandibula, dan hasilnya memuaskan,” kata Dwi Riski.
Dari penelitian selama tiga bulan, pemberian minyak ikan lemuru yang mengandung Omega 3 kepada tikus percobaan membuat serabut kolagen kartilago tikus mengalami perbaikan signifikan. “Dalam penelitian kami mengekstraksi tiga kilogram ikan lemuru sehingga menghasilkan enam mililiterminyak ikan, yang kemudian kami injeksikan secara bertahap ke rahang tikus percobaan,” jelas Sakti Wibawa. Penelitian mereka dituangkan dalam karya tulis ilmiah berjudul “Pengaruh Pemberian Minyak Ikan Lemuru (Sardinella longiceps) Terhadap Densitas Serabut Kolagen Kartilago Sendi Temporomandibula Tikus Yang Mengalami Osteoartritis”. Karya tulis mereka akhirnya menjadi juara pertama dalam ajang INDISFO National Research Competition 2016 yang dilaksanakan 9 Oktober lalu di Jakarta. INDISFO adalah ajang kompetisi karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh paguyuban FKG se-DKI dan Jawa Barat. Hebatnya lagi, juara ketiga juga diraih oleh tim dari FKG Universitas Jember, sementara juara kedua dibawa pulang oleh tim FKG Universitas Hasanuddin Makassar.
Penelitian trio FKG Universitas Jember ini dipuji oleh dewan juri, pasalnya berhasil memanfaatkan kekayaan alam bahari Indonesia. Selain itu, pemberian injeksi kepada tikus percobaan dinilai cukup sulit mengingat rahang tikus berukuran relatif kecil. “Yang membanggakan bagi kami, dewan juri berpendapat bahwa penelitian ini sebenarnya cukup sulit bagi mahasiswa jenjang S1, tapi berhasil kami laksanakan,” kata Idris yang mahasiswa angkatan 2015.
“Namun yang paling penting, kami sudah berusaha membuka peluang pemanfaatan kekayaan alam bahari kita yang melimpah ruah berupa ikan lemuru. Harapannya akan muncul inovasi baru berupa obat dan produk kesehatan berbahan ikan lemuru mengingat kandungan Omega 3-nya cukup tinggi. Sayang jika kita selalu bergantung pada produk obat dan kesehatan dari luar negeri, padahal kekayaan alam bahari kita sunguh luar biasa,” kata Dwi Riski menambahkan.
Prestasi tiga mahasiswa FKG Universitas Jember mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Rektor Universitas Jember, Moh. Hasan. Menurutnya, rintisan penelitian mengenai potensi ikan lemuru yang dilakukan oleh mahasiswa FKG bisa ditindaklanjuti oleh mahasiswa lain, sesuai dengan bidangnya. Apalagi Jember memiliki potensi sebagai penghasil ikan lemuru. “Penelitian ini terbuka untuk diteruskan menjadi penelitian lainnya. Misalnya saja mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian meneliti bagaimana cara mengekstrasi ikan lemuru menjadi minyak ikan yang siap konsumsi, mahasiswa Fakultas Farmasi menciptakan obat berbahan minyak ikan lemuru, sementara mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis melihat bagaimana cara memasarkannya dan seterusnya,” kata Moh. Hasan. (iim/ich)   



Jember (pewarta-jatim.com) - Kondisi cuaca yang sering terjadinya curah huja yang cukup tinggi mengakibatkan rentannya bahaya banjir di berbagai lingkungan, termasuk kawasan Ds Kramat Sukoharjo Kec Tanggul Kab Jember.
Babinsa Kramat Sukoharjo Serda Moh Yasin berkoordinasi dengan Kepala Desa untuk mengajak warga masyarakat desanya untuk melaksanakan Karya Bakti, Kepala Desa sangat mendukung sekali dengan dibantu oleh Kepala dusun Suko Timur untuk memerintah warganya melaksanakan karya bakti tersebut pada Jum’at 21/10/2016 Pukul 07.00 Wib.
Sasaran pembersihan jalan sepanjang 500 meter, jalan tersebut merupakan jalan desa yang menghubungkan dusun Suko Timur dengan dusun disekitarnya dan merupakan satu-satunya jalan besar yang ada didusun tersebut, ungkap Sunaryo 51 tahun warga setempat disela-sela pelaksanaan karya bakti.
Sunaryo menegaskan bahwa setiap kali hujan turun jalannya becek dan susah dilintasi dengan sepeda motor karena becek dan berlubang, dengan karya bakti ini saya berharap P Babinsa mau membantu mengusulkan pengerasan melalui dana pemerintah melalui desa.
Terkait dengan kegiatan tersebut Danramil 0824/16 Kapten Cba Beteng Irianto membenarkan adanya kegiatan tersebut, saya sudah perintahkan kepada Babinsa untuk segera menangani permasalahan yang ada diwilayahnya, koordinasikan dengan Kepala Desa dan hal tersebut sudah dilaksanakan dengan baik oleh anggotanya.
Dandim 0824 Jember Letkol Inf Muhammad Nas, SIP saat dikonfirmasi juga membenarkan adanya karya bakti tersebut, kita sudah instruksikan kepada anggota terutama yang menduduki jabatan Babinsa hendaknya memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi disekitarnya.

Kepada masyarakat dan semua pihak hendaknya tidak segan-segan melibatkan Babinsa untuk turut serta memikirkan kondisi yang mengendala diwilayahnya, sehingga dapat segera ditangani bersama. (sis24)



Jember (pewarta-jatim.com) -  Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember meraih akreditasi A. Kabar gembira ini disampaikan langsung oleh Dekan FK Universitas Jember, dr. Enny Suswati, M.Kes pada saat upacara Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Dokter Periode III Tahun 2016 di Ruang Auditorium Fakultas Kedokteran Kampus Tegalboto (18/10). “Alhamdulillah, berdasarkan surat keputusan dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKES) nomor 0803/LAM-PTKes/Akr/Sar/X/2016 dan surat keputusan nomor 0804/LAM-PTKes/Akr/Sar/X/2016, Fakultas kedokteran Universitas Jember mendapatkan akreditasi A, untuk pendidikan sarjana dan pendidikan profesinya,” ujar dekan disambut meriah para hadirin.

Seusai acara, Enny menjelaskan jika keberhasilan meraih akreditasi A adalah hasil kerja keras semua pihak. “Kami melakukan update data untuk persiapan visitasi akreditasi ini sejak tahun 2013 hingga akhir 2015, dibantu oleh tim Gugus Penjamin Mutu Fakultas Kedokteran di bawah arahan Badan Penjamin Mutu Universitas Jember. Kami juga melakukan pendampingan selama enam bulan sebelum visitasi dilakukan. Oleh karena itu terima kasih kepada seluruh sivitas akademika Fakultas Kedokteran, dan pihak rektorat yang sudah bekerja keras membantu visitasi akreditasi bulan September kemarin,” tutur Enny.

Enny lantas menambahkan, ada tujuh aspek yang menjadi penilaian, yaitu visi dan misi, manajemen, mahasiswa, SDM, keuangan, sarana dan prasarana, serta penelitian dan pengabdian masyarakat. “Meski masih ada kekurangan, kami terus berusaha memperbaiki misalnya saja dalam bidang  sarana dan prasarana, Jumat lalu FK Universitas Jember meresmikan Laboratorium Ketrampilan Klinik yang baru saja diresmikan. Laboratorium ini berfungsi sebagai tempat praktek bagi para calon dokter untuk melatih kemampuannya dalam menangani pasien dengan menggunakan manekin sebelum akhirnya terjun di lapangan untuk menangani pasien secara langsung,” tambah Enny. Laboratorium Ketrampilan Klinik ini terdiri dari ruang kelas dan seminar di lantai satu, dan 24 ruang ketrampilan untuk ujian, satu ruang penyimpanan alat, serta satu ruang pendukung di lantai dua dan tiga.

Pembantu Rektor I, Drs. Zulfikar, Ph.D, yang turut hadir dalam acara pelantikan ini, dalam sambutannya juga menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas kerja keras seluruh sivitas akademika Fakultas Kedokteran sehingga meraih akreditasi A. “Saya ucapkan selamat atas diraihnya akreditasi A Fakultas Kedokteran tahun 2016. Akreditasi A ini merupakan hal yang membanggakan bagi kami, mengingat proses untuk meraih akreditasi A ini merupakan yang paling cepat,” ujar Zulfikar. Dalam pengambilan sumpah dan pelantikan dokter kali ini diikuti oleh 10 orang dokter yang terdiri dari 6 dokter pria dan 4 dokter perempuan.


Sementara itu pada kesempatan terpisah, Moh. Hasan, Rektor Universitas Jember memberikan penghargaan atas prestasi FK Universitas Jember meraih akreditasi A. Penghargaan ini berupa  dana hibah sebesar 60 juta rupiah. “Selain itu kami akan membantu pembangunan  gedung pendukung kegiatan akademik lima lantai, harapannya prestasi ini dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan,” tutur rektor. (lid/mun/hen)



Batu (pewarta-jatim.com) - Blitar United tampil sebagai juara Liga Nusantara  (Linus) zona Jatim 2016, di Stadion Brantas Kota Batu. Blitar United akan jadi wakil Jatim di fase nasional setelah di partai final zona Jatim unggul atas Persedikab Kediri melalui drama adu penalti dengan skor akhir 8-7. Kedua tim finalis Linus zona Jatim tampil berimbang dalam pertandingan waktu normal. Kedua tim yang sama-sama berasal dari area lereng Gunung Kelud itu tak bisa mencetak gol hingga laga waktu normal. Kedudukan tetap 0-0 hingga peluit panjang 2x45 menit ditiup wasit.

Sebagai penentuan juara, partai final langsung dilanjutkan dengan adu penalti. Tidak ada babak perpanjangan waktu. Di babak adu penalti kembali kedua tim menunjukkan kekuatan yang seimbang. Persedikab Kediri yang menjadi eksekutor pertama cukup percaya diri di deretan penendang pertama dalam mencetak deretan gol. Tapi Blitar United yang malam itu mengenakan jersey warna putih juga tak kalah tangguh mengeksekusi sepakan penalti.

Skor tetap berimbang sampai penendang kelima sehingga terus dilanjutkan dengan eksekutor lanjutan. Drama adu penalti yang mendebarkan baru tuntas ketika memasuki urutan eksekutor ke sepuluh.

Penendang penalti kesepuluh Persedikab gagal meraih skor ketika bolanya membentur gawang dan mental keluar. Sedangkan eksekutor dari Blitar United sukses menjebloskan bola.
Dirut PT GTS, Joko Driyono sebagai penyelenggara Linus ISC mengapresiasi penyelenggaraan Linus di Jatim. Ia senang melihat antusiasme kedua tim dan pendukung di laga final zona Jatim.
“Sekali pun di tingkat amatir, tingkat provinsi, penyelenggaraan sangat baik. Drama yang luar biasa, antusias kedua tim bermain sportif. Terima kasih Askot Kota Batu, Asprov jatim yang sukses menyelenggarakan. Kami tunggu di putaran nasional yang rencananya dilangsungkan di bulan November,” ujar Joko Driyono usai pertandingan, Rabu (12/10/2016) malam. 



Jember (pewarta-jatim.com) -  Maraknya kasus kekerasan seksual (pedofil) yang terjadi pada anak-anak menjadi perhatian khusus semua pihak. Bahkan untuk mengurangi tindak pidana tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, yang mengatur pemberian sanksi kebiri kepada pelaku kekerasan seksual kepada anak. Namun tentunya usaha untuk mengurangi kasus kekerasan seksual pada anak tidak hanya di sisi penegakan hukum dan pengobatan saja, wilayah pencegahan dan pemberian edukasi juga wajib diperhatikan.
Salah satu usaha untuk mengedukasi bahaya kekerasan seksual terhadap anak dicetuskan oleh tiga orang mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember, Ferry Fitriya Ayu Andika, Annisa Dewi dan Helin Karismaningtyas. Mereka memilih cara tersendiri dalam mencegah terjadinya tindak pidana pedofil. Ayu bersama dua rekannya, Annisa Dewi dan Helin Karismaningtyas menggunakan permaianan edukatif sebagai bentuk penyuluhan pencegahan tindak kekerasan seksual anak. “Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh KPAI pada tahun  2015, dari total kejahatan yang terjadi 58 persennya adalah kejahatan kekerasan seksual pada anak. Bahkan pada pada tahun 2014 lalu ada 5066 kasus naik drastis jika dibandingkan dengan tahun 2011 yang hanya 2178 kasus,” jelas Ayu dan kawan-kawan saat ditemui di kampus FK Universitas Jember (13/10).
Berangkat dari niatan melindungi masa depan anak-anak, Ayu, Annisa dan Helin menciptakan game edukasi bahaya kekerasan seksual untuk anak-anak yang dinamai MONSTER, singkatan dari Monitoring of Sexual Tutelage and Education of Reproduction. “Kami menggunakan pendekatan permainan anak-anak, tujuannya agar anak-anak tertarik memainkan namun sekaligus mendapatkan pemahaman akan bahaya kekerasan seksual. Ide ini sudah kami tuangkan dalam sebuah karya tulis ilmiah yang berjudul Inovasi Permainan Edukatif Monster Sebagai Upaya Penurunan Kasus Kekerasan Seksual Dan Pedofilia Pada Anak di Indonesia,” urai Annisa.
Game MONSTER memiliki lima permainan, pendidikan seksual, organ tubuh dan reproduksi, haid dan mimpi basah, kekerasan seksual dan perlindungan diri. Di setiap permainan, pemain diminta meng-klik jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan. Setiap jawaban yang benar akan mendapatkan nilai dan penghargaan, sementara jawaban salah akan mendapatkan penjelasan. “Kami mendisain game ini dengan level-level permainan berjenjang yang dikaitkan dengan kota di Indonesia, agar anak-anak juga tahu mengenai negaranya,” jelas Ayu, calon dokter yang suka main game ini.
Pertanyaan yang diajukan semisal bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain, apa yang harus dilakukan saat mendapatkan tindakan yang mengarah ke kekerasan seksual. “Permainan ini bisa digabungkan dengan pelajaran lain semisal pelajaran IPA karena juga membahas mengenai tubuh, alat reproduksi sampai proses datang bulan dan mimpi basah sebagai tanda pubertas bagi anak,” kata Helin. Pilihan membuat game bagi anak-anak khususnya di usia sekolah dasar bukan tanpa alasan. Menurut Helin, dari hasil penelitian yang sudah dipublikasikan, pelaku pedofilia memiliki riwayat sebagai korban pedofilia. “Harapan kami permainan ini bisa memberikan pemahaman bagi anak-anak akan bahaya pedofilia sekaligus memutus mata rantai kasus tersebut,” imbuhnya.

Ide game MONSTER ciptaan trio mahasiswi FK Universitas Jember ini mendapatkan penghargaan sebagai juara pertama dalam ajang “Warmadewa Aesculapius Science Competition” yang digelar oleh Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali pada tanggal 22-25 September lalu. “Alhamdulillah ide kami mendapatkan apresiasi yang bagus dari para dewan juri sehingga diganjar sebagai juara pertama, diikuti tim FK Universitas Udayana dan tim FK Universitas Hasanuddin di peringkat kedua dan ketiga,” pungkas Ayu. (iim/mun/hen)


Jember (pewarta-jatim.com) -  Universitas Jember mengukuhkan tiga orang profesornya. Mereka adalah dua orang profesor dari Fakultas Ilmu Budaya, yakni Prof. Drs. Nawiyanto, MA., Ph.D., sebagai profesor dalam bidang sejarah ekonomi dan ilmu lingkungan pada Jurusan Sejarah, dan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., profesor dalam Ilmu Sastra Indonesia pada jurusan Sastra Indonesia. Serta Prof. Dr. Ir. Bambang Sujanarko, M.M., profesor dalam bidang Teknik Elektro pada Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Jember. Ketiganya dikukuhkan oleh Rektor, Drs. Moh. Hasan, M.Sc., PhD dalam rapat terbuka senat Universitas Jember di gedung Soetardjo (12/10).

Dalam sambutannya, Rektor mengharapkan agar para profesor yang baru dikukuhkan dapat menjadi lentera bagi program studinya dan lingkungan sekitarnya. “Keberadaan seorang profesor harus mampu membawa dampak positif bagi pengembangan keilmuan, menjadi pembimbing bagi kolega dan guru bagi mahasiswanya,” urai Moh. Hasan. Rektor lantas menegaskan bahwa Universitas Jember terus mendorong dan memberikan fasilitas bagi para dosen agar mampu mencapai jabatan akademik tertinggi, yakni profesor. “Kami mengapresiasi para profesor yang hari ini dikukuhkan, karena jabatan profesor diraih dengan kerja keras dan penuh pengorbanan,” tambahnya lagi.  

Profesor Sejarah Ekonomi dan Lingkungan Pertama di Indonesia
            Profesor pertama yang dikukuhkan adalah Prof. Nawiyanto. Istimewanya, pria asal Klaten ini tercatat sebagai profesor bidang sejarah ekonomi dan lingkungan yang pertama di Indonesia. Dalam bincang-bincang dengan tim Bagian Humas dan Protokol yang dilakukan sehari sebelumnya, Nawiyanto menjelaskan jika pilihan menekuni sejarah ekonomi dan lingkungan tidak lepas dari posisi Kampus Tegalboto yang berada di Jember yang merupakan daerah pertanian dan perkebunan. “Saat menempuh kuliah master dan doktoral di Australian National University, setiap kandidat diminta untuk meneliti bidang yang memiliki kaitan langsung dengan kondisi di Indonesia. Karena saya bekerja di Universitas Jember, maka saya tertarik menekuni bidang sejarah ekonomi dan lingkungan,” ujar dosen yang desertasinya mengenai sejarah perkebunan dan pertanian di Besuki ini.

            Ternyata pilihan menekuni bidang sejarah ekonomi dan lingkungan membawa Nawiyanto kepada jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi, sebagai profesor. Dalam pidato ilmiahnya berjudul “Historiografi Lingkungan : Konteks, Praktek Dan Prospeknya Di Indonesia”, Nawiyanto menjelaskan apa, bagaimana dan manfaat bidang studi sejarah ekonomi dan lingkungan. “Bidang ini memang baru berkembang di Indonesia pada era tahun 1990-an, namun memiliki signifikansi dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara agraris dan rawan bencana,” ujar bapak satu putri ini.

            Nawiyanto lantas mencontohkan manfaat kajian sejarah ekonomi dan lingkungan, di bidang sejarah bencana alam yang kerap melanda Indonesia. Kajian mengenai sejarah bencana alam dapat menjadi lonceng peringatan yang diharapkan membangun kesadaran masyarakat, sekaligus menjadi reservoir kearifan sejarah. “Jika selama ini sejarah lekat dengan masa lalu, maka sejarah ekonomi dan lingkungan selalu terkait dengan masa kini dan membuka kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya,” tambahnya lagi.



Prof. Novi Anoegrajekti : Gandrung Akan Kesenian Gandrung
            Profesor kedua yang dikukuhkan hari itu adalah Prof. Novi Anoegrajekti yang berasal dari Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Jember. Guru besar yang akrab disapa Mbak Novi ini terkenal sebagai peneliti kesenian dan budaya Using. Tidak heran jika di upacara pengukuhannya, hadir para seniman dan budayawan dari Banyuwangi, salah satunya budayawan Using senior Hasnan Singodimayan. Boleh dikata Novi adalah profesor yang gandrung akan kesenian gandrung dari Banyuwangi. Prof. Novi membacakan pidato ilmiah berjudul “Optimalisasi Seni Pertunjukan, Kontestasi Negara, Pasar, Dan Agama”.

            Profesor kelahiran Malang ini lantas memaparkan tulisan ilmiahnya mengenai hubungan antara negara, pasar dan agama dengan budaya Using. Ada lima kesenian Banyuwangi yang ditelitinya, yakni gandrung, kuntulan, janger, barong, dan mocoan. “Kelima seni pertunjukan tadi memiliki kualitas relasi dengan negara, pasar, dan agama secara beragam. Banyuwangi menempatkan kelima seni pertunjukan sebagai identitas wilayah untuk mendukung pariwisata,” jelas Novi.

            Sebagai simpulan, menurut Novi lima seni pertunjukan Banyuwangi memiliki dinamika yang beragam. Hanya janger yang sengaja dicipta sebagai seni pertunjukan teater tradisional. Gandrung pada mulanya sebagai media perjuangan, kuntulan dan mocoan menjadi media dakwah Islam, dan barong sebagai media ritual. Negara menempatkan seni pertunjukan sebagai identitas wilayah yang mendukung pariwisata. Kehadiran negara diperlukan untuk memproteksi dan mengadvokasi, utamanya yang berkaitan dengan ketentuan kontrak atau perjanjian kerja dengan pemodal. “Dalam kaitannya dengan agama, pelaku seni merindukan kehadiran pemuka agama atau ulama yang berbelarasa,” tambahnya.

Elektronika Daya Untuk Energi Terbarukan
            Profesor ketiga yang dikukuhkan adalah Prof. Bambang Sujanarko. Guru besar di bidang elektronika daya ini menjelaskan mengenai masa depan konsumsi energi di Indonesia. Menurut Bambang Sujanarko, konsumsi energi listrik di Indonesia akan makin membesar sejalan dengan perkembangan ekonomi Indonesia. “Problemanya, sumber energi listrik yang kita pakai 89 persen berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak dan batubara, hanya 11 persen yang berasal dari energi terbarukan,” tutur bapak dua anak ini.

            Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Peran Elektronika Daya Dalam Peningkatan Efisiensi Energi Listrik Dan Implementasi Energi Terbarukan”, Bambang lantas menawarkan penggunaan pembangkit listrik yang memanfaatkan energi air, angin, sinar matahari, ombak dan lainnya. “Masalahnya, energi terbarukan seperti air, angin, sinar matahari dan lainnya memiliki karakteristik yang tersebar, variatif dan fluktuatif, sehingga perlu sistem yang dapat mengintegrasikan, mengkondisikan, dan menstabilkan energi listrik hasil konversi. Nah di sinilah elektronika daya berperan,” ujar profesor asal Nganjuk ini. (iim/hen)  
  

lyddezign

{facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google-plus#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget